rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Rumah Gadang Bertingkat

Minangkabau Huis
Banyak kita gambar-gambar Rumah Gadang Minangkabau berangka tahun 1800-an di situs-situs Meseum Belanda. Hal ini terjadi karena Belanda begitu tertarik dengan kebudayaan Matrilineal Minangkabau dan melakukan ekspedisi ke Pedalaman Minangkabau di waktu tersebut, tentu mereka tidak lupa untuk mengabadikannya dalam bentuk foto.

Yang menarik  adalah banyaknya ditemukan foto-foto rumah gadang bertingkat yang tidak kita temui sa'at sekarang ini. Yang jadi pertanyaan sekarang kenapa tidak ditemukan foto jadul rumah gadang bertingkat 3 seperti Istana Pagaruyung? Apakah tingkatnya ditambah 1 tingkat ketika pembangunan replika Istana, atau Belanda tidak sempat mengabadikan karena terbakar? Wallahualam.

Berikut adalah beberapa gambar-gambar rumah gadang bertingkat yang berhasil kami himpun:
Gezin en huis van een vaccinator (mantri tjatjar) in de Padangse Bovenlanden circa 1900
Het adathuis van Katieb Negri te Soepajang, Padangse Bovenlanden, Sumatra’s Westkust circa 1887
Bangunan Gajah Maharam Bertingkap Desa Pasir Singkarak Kab solok
Een rumah gadang in kampong Baso bij Fort de Kock circa 1892
Repronegatief. Residence with rice barn, Agam circa 1863
Een rumah gadang in kampong Baso bij Fort de Kock circa 1892

Fakta Unik Pulau Sumatra

1. Sumatra adalah pulau terbesar keenam di dunia, dan juga pulau tertinggi kelima di dunia.

2. Di Sumatra terdapat suku Mentawai yang memiliki tradisi mentato tubuh tertua di dunia.

3. Nama Sumatra merupakan penyebutan orang luar terhadap pulau ini, sementara sebelumnya sumatra bernama Bhumi Malayu, dan Swarnabhumi (Pulau Emas).

4. Jumlah penduduk di Pulau Sumatra adalah 45 juta jiwa. artinya penduduk pulau sumatra lebih banyak dari negara: Afrika Selatan (42 Juta), Kolombia (42.3 Juta), Spanyol (40.2 juta) Argentina (39.1 Juta), Polandia (38.6 juta), Kanada (33 juta), Malaysia (27 Juta), Arab Saudi (25 Juta).

5. Lebih dari 20 buah danau dan 30 gunung berada di Sumatra. Sementara Gunung kerinci merupakan Guning tertinggi di Indonesia di luar Papua. Dan danau Gunung Tujuh Kerinci merupakan danau tertinggi di Asia tenggara.

6. Ada banyak Ikan endemik di Sumatera, diantaranya ikan batak di danau toba, ikan bilih di danu singkarak, ikan rinuak di danau maninjau, ikan selais di perairan air tawar Riau dll.


7. Pulau ini merupakan tempat kelahiran tokoh-tokoh besar Asia Tenggara. Seprti, Rajo Bagindo pendiri Kesultanan Sulu Philipina.
Yusof bin Ishak menjadi presiden pertama Singapura, dan Zubir Said menciptakan lagu kebangsaan Singapura Majulah Singapura.Tuanku Abdul Rahman menjadi Yang Dipertuan Agung pertama Malaysia. Di Arab Saudi, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, menjadi satu-satunya orang non-Arab yang pernah menjabat imam besar Masjidil Haram, Mekkah. Mohammad Natsir, salah seorang tokoh Islam terkemuka, pernah menduduki posisi presiden Liga Muslim se-Dunia (World Moslem Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia. Sementara itu Azyumardi Azra, menjadi orang pertama di luar warga negara Persemakmuran yang mendapat gelar Sir dari Kerajaan Inggris.

8. Walau Sumatra identik dengan Islam dan Melayu namun Komplek Candi Muaro Jambi merupakan yang terluas di Asia Tenggara. Tempat ribuan Para pendeta dari seluruh dunia menimba ilmu pada masa Sriwijaya.

 
9. Sumatra kaya akan adat dan budaya yang beraneka ragam. Lebih dari 50 etnis asli ada di Pulai ini.

10. Terdapat 10 Artis Hollywood yang memiliki darah Sumatra.


Ada  yang mau menambahkan?

Apa Itu Kopi Luwak?

Musang Luwak
Kopi Luwak adalah seduhan kopi menggunakan biji kopi yang diambil dari sisa kotoran luwak/musang kelapa. Biji kopi ini diyakini memiliki rasa yang berbeda setelah dimakan dan melewati saluran pencernaan luwak. Kemasyhuran kopi ini di kawasan Nusantara telah lama diketahui, namun baru menjadi terkenal luas di peminat kopi gourmet setelah publikasi pada tahun 1980-an. Biji kopi luwak adalah yang termahal di dunia, mencapai USD100 per 450 gram.

Sejarah
Asal mula Kopi Luwak terkait erat dengan sejarah pembudidayaan tanaman kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-18, Belanda membuka perkebunan tanaman komersial di koloninya di Hindia Belanda terutama di pulau Jawa dan Sumatera. Salah satunya adalah bibit kopi arabika yang didatangkan dariYaman. Pada era "Tanam Paksa" atau Cultuurstelsel (1830—1870), Belanda melarang pekerja perkebunan pribumi memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi, akan tetapi penduduk lokal ingin mencoba minuman kopi yang terkenal itu. Kemudian pekerja perkebunan akhirnya menemukan bahwa ada sejenis musang yang gemar memakan buah kopi, tetapi hanya daging buahnya yang tercerna, kulit ari dan biji kopinya masih utuh dan tidak tercerna. Biji kopi dalam kotoran luwak ini kemudian dipunguti, dicuci, disangrai, ditumbuk, kemudian diseduh dengan air panas, maka terciptalah kopi luwak. Kabar mengenai kenikmatan kopi aromatik ini akhirnya tercium oleh warga Belanda pemilik perkebunan, maka kemudian kopi ini menjadi kegemaran orang kaya Belanda. Karena kelangkaannya serta proses pembuatannya yang tidak lazim, kopi luwak pun adalah kopi yang mahal sejak zaman kolonial.

Proses Pembuatan
Luwak, atau lengkapnya musang luwak, senang sekali mencari buah-buahan yang cukup baik dan masak termasuk buah kopi sebagai makanannya. Dengan indera penciumannya yang peka, luwak akan memilih buah kopi yang betul-betul matang optimal sebagai makanannya, dan setelahnya, biji kopi yang masih dilindungi kulit keras dan tidak tercerna akan keluar bersama kotoran luwak. Hal ini terjadi karena luwak memiliki sistem pencernaan yang sederhana, sehingga makanan yang keras seperti biji kopi tidak tercerna. Biji kopi luwak seperti ini, pada masa lalu hingga kini sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan telah difermentasikan secara alami di dalam sistem pencernaan luwak. Aroma dan rasa kopi luwak memang terasa spesial dan sempurna di kalangan para penggemar dan penikmat kopi di seluruh dunia.

Kontroversi
Baru-baru ini Kopi Luwak mendapat kecaman oleh organisasi khusus yang mengutamakan perlakuan etis terhadap kesejahteraan binatang, People for The Ethical Treatments of Animals (PETA).PETA telah menginvestigasi pembuatan kopi luwak di Indonesia. PETA melaporkan bahwa inantang luak mendapatkan perlakuan yang tidak etis, Musang di kurung dalam kandang dan hanya di beri makan kopi saja sehingga hewan yang hidup di alam liar ini mengalami stress berat. Wakil Presiden Operasi Internasional PETA Asia, menuturkan bahwa setelah kampanye itu, lebih dari 50.000 konsumen dari berbagai negara telah melakukan tanda perjanjian dengan PETA untuk tidak membeli produk kopi luwak."Beberapa jaringan hotel besar dan para penjual terbesar juga telah berhenti memperjualkan kopi luwak, termasuk Grand Hyatt di Singapura; InterContinental, Hotel Langham, dan Mandarin Oriental di Hongkong; dan cabang pusat perbelanjaan ikonis, Harrods, di Inggris," kata Baker dalam keterangannya di Jakarta.Ia menambahkan, membeli suatu produk yang berasal dari hasil penyiksaan binatang justru menunjukkan bentuk dukungan terhadap penyiksaan tersebut. "Itulah sebabnya banyak konsumen dan perusahaan besar di seluruh dunia menolak segala hal yang berkaitan dengan kopi luwak," tambahnya.

Selain menemukan Kopi Luwak perlakuan Belanda terhadap pribumi Indonesia yang melarang mengkonsumsi biji kopi juga membuat pribumi mencari minuman alternatif lain, yaiut ditemukannya minuman terkenal teh daun kopi atau lazim disebut dengan Kawa Daun di Sumatra Barat, sehingga belanda menjuluki orang minang dengan sebutan “Melayu Kopi Daun”. Yang mana pamor minuman ini juga semakin naik setelah media eropa mempublikasikan manfaat dari menkonsumsi Kawa Daun.

Sejarah dan Nama Lain Pulau Sumatera

Sumatra Old Map
Berikut nama-nama dan asal usul pulau Sumatera.

1. Bhūmi Mālayu
Bhūmi Mālayu ("Tanah Melayu") terukir di Prasasti Padang Roco, yaitu sebuah prasasti yang ditemukan pada tahun 1911 di hulu sungai Batanghari, kompleks percandian Padangroco, nagari Siguntur, kecamatan Sitiung, kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.
Selanjutnya dalam naskah Negarakertagama dari abad ke-14 juga kembali menyebut "Bumi Malayu" (Melayu) untuk pulau ini.

Di pulau ini juga pernah berdiri kerajaan Melayu yang berpusat di Muara sungai Batang Hari, Jambi. Pada tahun 682 kerajaan ini ditaklukkan oleh Sriwijaya, dan melalui Sriwijaya bahasa dan kebudayaan Melayu disebarkan ke daerah kekuasaannya.

2. Swarnnabhūmi
Pada Prasasti Padang Roco dipahatkan swarnnabhūmi (bahasa Sanskerta, berarti "tanah emas").
Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi.


3. Suwarnadwipa
Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa “pulau emas”.
Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.
Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa.
Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib.


4. Malaya dvipa
Istilah Malaya dvipa muncul dalam kitab Purana, sebuah kitab Hindu purba, yang ditulis sebelum zaman Gautama Buddha sehingga 500 Masihi. Dvipa bermaksud "tanah yang dikelilingi air" dan berdasarkan maklumat-maklumat yang lain dalam kitab itu, para pengkaji beranggapan bahawa Malaya dvipa ialah Pulau Sumatera.


5. Pulau Emas
Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindua Mato dari Minangkabau. 

Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pula yang besar ini.
Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “Negeri Emas”.


6. Taprobana
Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.
 
Pada masa Dinasti ke - 18 Fir’aun di Mesir ( sekitar 1.567SM-1.339SM ), di pesisir barat pulau sumatera telah ada pelabuhan yang ramai, dengan nama Barus. Barus ( Lobu Tua – daerah Tapanuli ) diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Barus dikenal karena merupakan tempat asal kapur barus. Ternyata kamper atau kapur barus digunakan sebagai salah satu bahan pengawet mummy Fir’aun Mesir kuno.


7. Chryse Nesos
Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. 


8. Pulau Percha
Di pulau ini banyak terdapat Getah perca atau Palaquium adalah salah satu tumbuhan asli Sumatra. Tumbuhan ini juga terdapat di Semenanjung Malaya,  Australasia, Taiwan bahkan sampai ke Kepulauan Solomon.


9. Bumi Andalas.
Bebesaran atau murbei (Latin: Morus) adalah sebuah genus yang terdiri dari 10–16 spesies pohon tertentu yang asli berasal dari daerah panas sedang dan subtropis di Asia, Afrika dan Amerika. Mayoritas spesies asli berasal dari Asia. Salah satunya yang terkenal adalah di desa Andaleh, kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang telah mencapai usia lebih dari 120 tahun.


10. Sumatera
Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis.
Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatera. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah Indonesia: Sumatera.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ofir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

 
Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera (Gunung Ophir di Pasaman Barat, Sumatera Barat yang sekarang bernama Gunung Talamau. Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ofir Nabi Sulaiman a.s.


Pulau Sumatra dari dahulu memang terkenal sebagai daerah penghasil emas, khususnya daerah Sumatra Barat, konon katanya pemasukan emas Sriwijaya berasar dari Minangkabau. Berdasarkan laporan dari Thomas Dias, seorang Portugis yang digaji oleh Belanda di Melaka pada masa itu. Dia dikatakan mengembara dari pantai timur untuk tiba ke kawasan tersebutdan melaporkan, bahawa terdapat istana di Pagaruyung dan pelawat perlu melalui tiga pagar untuk memasukinya. Dia melaporkan bahawa kerja utama penduduk tempatan pada masa itu merupakan mendulang emas dan pertanian. Di pantai barat sumatera pun banyak terdapat pelabuhan yang menjual berbagai macam komoditi termasuk emas. Sampai sekarang pun Masih banyak daerah penghasil Emas di Sumatra Barat. Bahkan beberapa daerah dipusingkan karena adanya penambangan ilegal oleh Masyarakat seperti di Kabupaten Dharmasraya dan Kabupaten Solok Selatan.

Minangkabau Aksesoris (Peralatan Tradisional)

1 .Bokor Kuningan, sebagai tempat menyimpan sesuatu di dalam rumah dan sekaligus sebagai barang perhiasan.
2. Carano, sebagai temapat siriah langkok (sejumlah sirih tersusun dilengkapi dengan bahan untuk memakan sirih, di antaranya berupa pinang, kapua/ sadah, gambir dan tembakau).
3. Salapah, semacam tempat untuk rokok daun nipah dengan tembakaunya.
4. Carano siriah, tempat meletakkan sirih
5. Perunggu Penumbuk sirih, wadah tempat menumbuk sirih
6. Bambu cerutu kasus, tempat tembakau/cerutu
7. Kotak Sirih
8. Tabung Kapur
9. Mangkok Perak
10. Pot
11. Vas Kuningan sirih
12. Messingen Lamp
13. Tempat Sirih
14. Gelang besar, biasanya dipakai oleh raja atau bundo kanduang
15. Salapah Bulek
16. Tabung Tempat Sada
17. Penutup Kuningan

Foto : Collection Tropenmuseum

Mengenal Soto Padang dan Cara Membuatnya

Soto Padang
Soto padang merupakan variasi dari sekian banyak jenis soto di Nusantara, jika soto betawi menggunakan jeroan dan bumbu khas betawi maka Soto Padang menggunakan daging sapi dengan rempah-rempah kas Minang-nya. Begitu juga dengan soto lainnya di berbagai daerah di indonesia ada yang menggunakan daging ayam, kambing, babi dll. Soto kediri misalnya dikasih santan pada kuahnya, soto madura dengan campuran telur dan toge, sementara kita bisa menemukan kucai dalam soto jepara, tentu dengan cita rasa kuah yang berbeda pula. Nah biar tidak bingung jika ada yang menanyakan apa itu soto padang, maka berikut ini penjelasannya.

Soto Padang adalah hidangan berkuah kaldu sapi dengan bahan irisan daging sapi yang sudah digoreng kering, bihun (mie dari tepung beras), ditambah dengan pelengkap seperti perkedel kentang , irisan daun bawang, irisan seledri, bawang goreng, kerupuk kanji merah dan sambal lado merah dan dihidangkan panas-panas.

Selain di Kota Padang, Sumatera Barat, hidangan Soto Padang juga mudah ditemukan di berbagai restoran Padang di penjuru dunia.

RESEP
Bahan
• 250 gram daging sapi has dalam
• 2 liter air
• 1 buah pekak
• 4 siung bawang putih, haluskan
• 2 sdt garam
• Minyak secukupnya, untuk menggoreng


Haluskan
• 5 siung bawang putih
• 10 butir bawang merah
• 3 cm jahe
• 1 sdt merica
• 3 butir kemiri
• 1 sdm garam


• 3 cm lengkuas, memarkan
• 1 batang serai, memarkan
• 3 lembar daun salam
• 4 lembar daun jeruk purut
• 3 butir kapulaga
• 1 buah pekak


Pelengkap
• Soun, rendam air hangat sebentar
• Perkedel kentang
• Irisan daun bawang
• Irisan seledri
• Bawang goreng
• Kerupuk kanji merah
• Sambal lado merah

Cara membuat


rebus daging bersama pekak sampai daging empuk, angkat. Sisihkan air kaldunya untuk kuah soto.
potong daging berbentuk kotak tipis. Campur dengan bawang putih dan garam, aduk rata. Diamkan selama 30 menit agar bumbu meresap. Goreng sampai garing, angkat, tiriskan.


tumis bumbu halus bersama lengkuas, serai, daun salam, daun jeruk purut, kapulaga, dan pekak sampai harum. Masukkan tumisan kedalam air kaldu. Aduk sampai mendidih.


atur soun, perkedel, dan daging goreng di dalam mangkuk. Taburi dengan irisan daun bawang, seledri, dan bawang goreng. Siram dengan kuah soto. Sajikan selagi panas dengan kerupuk dan sambal lado merah.

Untuk 5 orang.


kitabmasakan.com
id.wikipedia.org

“Danau Laut Tinggal” Sebuah Danau di Sumatra Barat yang Tidak Tercatat dalam Peta

Jika anda melihat video dibawah ini pasti tidak akan percaya kalau tempat ini berlokasi di kabupaten Pasaman Barat, Sumbar. Tempat ini merupakan sebuah danau yang bernama "Danau Laut Tinggal". Yaitu sebuah danau yang terletak di bagian utara Pasaman Barat, di perbatasan antara Sumatera Barat dengan Sumatera Utara. Danau Laut Tinggal terletak di Jorong Sitabu, Nagari Rabi Jonggor, Kec. Gunung Tuleh Pasaman Barat, pada ketinggian 1612 m dpl.

Tahun 2009 peneliti dari Jerman yang bernama Dr. Renata Rabenstern dan Herwig Zahorka melakukan ekspedisi selama 6 hari bersama msyarakat setempat. Peneliti dr Jerman mengetahui danau ini dari pantauan satelit bahwa di bagian utara Provinsi Sumbar terlihat ada danau yang belum terjamah oleh manuasia.

Mereka menemukan sebuah danau yang indah, namun tidak ada hewan ataupun ikan yang hidup di sana, belum ada penelitian lebih lanjut apa penyebabnya

Danau ini memiliki diameter 2 Km & jarak menuju danau 20 Km dari Sitabu, topografi curam & kaya anekaragam hayati yg belum terinformasikan. Danau ini memiliki air berwarna hijau tosca. Tidak berlebihan rasanya jika danau Laut Tinggal merupakan Hiasan Hutan Hujan Tropis di Indonesia, bahkan dunia.

Penasaran? langsung saja lihat vidoe di bawah ini.