rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Pesawat Pertama Republik Indonesia Berasal dari Sumbangan Bundo Kanduang.

Pembelian pesawat terbang pertama Republik Indonesia, berasal dari sumbangan kaum ibu (amai-amai) di Sumatera Barat.

Ribuan amai-amai yang berasal dari nagari-nagari di sekitar Kota Bukittinggi, berkumpul di Lapangan Kantin Bukittinggi mengumpulkan apa saja jenis perhiasan emas. Sabelek ameh takumpuan," kata Abdul Samad, yang saat itu terlibat langsung menggalang massa.

Selama lebih kurang 2 bulan panitia bekerja dengan bantuan tokoh masyarakat terkumpul emas perhiasan amai-amai sebanyak 1"belek” atau 1 kaleng biskuit, lalu emas itu dilebur menjadi emas batangan yang beratnya 14 kg lebih.

Waktu itu mengumpulkan emas sebanyak itu tidak begitu sulit karena semangat amai-amai untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan juga bergelora, lagian amai-amai di tanah minang banyak yang memiliki emas perhiasan karena emas bagi mereka merupakan benda penyimpan kekayaan dan lambang kemuliaan seperti diung­kap pepatah, “bapak kayo, mandeh baameh, mamak disambah urang pulo”.

Awal Desember 1947 pesawat Avro Anson yang akan dibeli itu mendarat di lapangan udara Gadut, kedatangannya disambut antusias warga masyarakat.

Pada 9 Desem­ber 1947 Avro Anson diterbangkan oleh Iswahyudi dan Halim Perdanakusuma ke Songhkla Tailand, untuk membeli perlengkapan senjata di Thailand.

Namun naasnya, Avro Anson jatuh di Tanjung Hantu negara bagian Perak, Malaysia. Dalam kejadian itu jenazah Halim Perdanakusuma diketemu kan namun Iswahyudi tidak dike tahui nasibnya sampai sekarang. Penyebab jatuhnya pesawat juga tidak diketahui secara pasti, apakah karena kerusakan, cuaca buruk atau karena sabotase.

Sebagai pejuang pilot Avro Anson Iswahyudi diabadikan menjadi nama pelabuhan udara di Jawa Tengah dan nama navigatornya Halim Perdanakusuma diabadikan menjadi nama lapangan udara di Jakarta.

Sedangkan bagi amai-amai minang jatuhnya pesawat Avro Anson nasib mereka bagaikan sudah jatuh ditimpa tangga, emas perhiasan sudah dikorbankan, pesawat yang diidamkan tidak dapat digunakan, namun kadang ya begitulah perjuangan itu, penuh onak duri dan pengorbanan.

Sebagai pembangkit kenangan dan bukti pisik perjuangan replika Avro Anson dipajang sebagai monumen sejarah berskala nasional di Gadut kecamatan Tilatang Ka­mang.
Monumen Avro Anson di Gadut kecamatan Tilatang Ka­mang Agam

Manfaat Kopi Utuk Kulit

Kopi, selain bermanfaat untuk menghilangkan rasa kantuk ternyata memiliki khasiat lain untuk kulit. Manfaat kopi untuk kulit sudah disadari oleh beberapa produsen produk kecantikan ternama seperti L’Oreal, Pond's Men dan Avon. Mereka menyertakan kafein, zat yang terkandung dalam kopi pada produknya, terutama untuk cream dan skin lotion. Selama beberapa tahun kafein yang terkandung dalam kopi telah menjadi bahan dasar yang dapat menghilangkan selulit. Kafein mendehidrasi sel-sel lemak dan menggosongkan komponen sel seperti sodium/potassium. Bahkan beberapa orang bisa menghilangkan noda bekas luka bakar terkena knalpot yang sudah menahun dengan menggunakan campuran bubuk kopi dan putih telur yang akan kami jelaskan nantinya dalam artikel ini.

Selain mengandung kafein, kopi juga mempunyai kandungan asam buah dan asam organik, lemak, alkaloid, mineral, potasium, magnesium dan besi yang banyak berguna untuk kecantikan kulit kita. Nah dalam artikel kali ini Anak-Anak Minang akan memberikan informasi mengenai 7 manfaat kopi bagi kulit khusus untuk sahabat.

1. Pengelupas kulit mati dan mehilangkan noda hitam.
Ampas kopi dicampur dengan putih telur, aduk sampai rata.
cara pakai : bekas noda di bersihin pake air hangat agar pori-pori terbuka terus di oleskan pada noda hitam pada kulit, tunggu sampai kering 15-20 menit bilas dgn air. lakukan 2-3 x sehari. 1 bulan Inshaallah bekas noda hilang.

2. Melembabkan kulit wajah/Mengurangi selulit.
Ampas kopi dicampur dengan minyak zaitun .Campuran ini bermanfaat untuk melembabkan wajah dan mampu mengurangi jerawat pada wajah. pakai campuran minyak zaitun dan bubuk kopi pada wajah 15-20 menit, lalu bilas dengan air bersih . Untuk selulit, oleskan campuran ini ke bagian selulit, bungkus dengan plastik, diamkan selama 15-20 menit, kemudian basuh dengan air.

3. Mencerahkan wajah.
Campurkan 3 sendok makan ampas kopi dengan satu gelas susu sapi murni. Oleskan campuran ke bagian wajah dan leher kecuali mata dan bibir sebagai masker wajah. Pijat lembut kulit, dan biarkan selama 20 menit. Basuh dengan air.

4. Melembabkan dan membuat kulit wajah menjadi rileks.
Campurkan 3 sendok makan ampas kopi dengan satu sendok makan cokelat bubuk, tambahkan sedikit air. Oleskan campuran pada wajah, diamkan selama 30 menit, bersihkan dengan handuk basah hangat.

5. Menghaluskan kulit
Tumbuk kasar biji kopi murni. Sikat tubuh dengan menggunakan sikat khusus tubuh. Balurkan kopi yang ditumbuk kasar ke seluruh bagian tubuh dan gosok perlahan (sebagai scrub). Di India, kebiasaan ini dipercaya dapat melangsingkan tubuh bila dilakukan secara teratur, karena kandungan kafein yang terdapat dalam kopi bisa menghancurkan sel lemak.

6. Menghilangkan flek hitam bekas jerawat.
Campur bubuk kopi dengan baby oil atau sabun pembersih wajah secukupnya, pijat lembut pada wajah terutama pada daerah yang terdapat flek hitam bekas jerawat. Bila dilakukan secara rutin, dapat menghilangkan flek hitam lebih cepat.

7. Menurunkan resiko kanker kulit
Studi yang dilakukan di Universitas Rutgers di New Jersey Amerika Serikat memperkuat teori bahwa kafein merupakan penghalang dari kanker kulit karena dapat menghambat enzim protein dalam kulit atau sering disebut ART. Ilmuwan menemukan bahwa bubuk kopi yang diaplikasikan langsung di kulit dapat menghalangi sinar UV yang dapat memicu kanker kulit.

8.Sebagai Lulur mandi
Ambil 2 sendok makan kopi bubuk lalu kash air panas sampai jadi bubur kopi/seperti odol kentalnya. tunggu dingin lalu campurkan dgn 1 sendok makan lulur mandi/sbun cair kesayangan anda,dan 3 tetes minyak zaitun atau bsa juga minyak kelapa murni. Kemudian gunakan keseluruh tubuh sebagai luluran.

Danau Maninjau, Sebuah danau Dari Letusan Gunung Sitinjau.

Danau Maninjau adalah sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam.

Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Maninjau sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau (Gunung Maninjau Purba) .

Maninjau Purba meletus dahsyat sekitar 60.000 tahun yang lalu. Letusan ini menyemburkan 220-250 kilometer kubik rempah vulkanik yang tersebar hingga radius 75 kilometer dari pusat letusan.

Gunung api Maninjau yang berkembang di zona Sesar Besar Sumatera itu diperkirakan tiga kali meletus besar. Masing- masing letusan membentuk kaldera yang saling menyambung hingga membentuk Danau Maninjau seperti saat ini.

Jejak letusan dahsyat Maninjau tersingkap jelas di Ngarai Sianok di dekat kawasan wisata Bukittinggi, Sumatera Barat. Lembah besar itu diapit tebing terjal berona cerah hasil aliran awan panas dan endapan material jatuhan letusan Maninjau Purba. Ketebalan material letusan yang terpotong Batang Sianok itu mencapai 220 meter.

Endapan material letusan Maninjau itu diteliti HD Tjia Geolog dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Ros Fatihah, peneliti geologi dari Universitas Malaya yang dituangkan dalam penelitian Blasts from the Past Impacting on Peninsular Malaysia (2008). Tjia yang pernah mengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menemukan tiga teras sungai yang menunjukkan terjadinya tiga periode letusan itu. Teras pertama berada sekitar 16 meter dari dasar sungai. Teras kedua menjulang hingga 200 meter dan tidak ada pelapisan.

”Tuff (material endapan letusan) yang sangat tebal itu menunjukkan pernah terjadi letusan sangat besar yang semburan tepra (fragmen batu apung) tersebar sangat luas, seperti yang terjadi di Toba,” tulis Tjia.

Hal ini wajar terjadi di Sumatra, mengingat pulau ini dilalui Patahan Semangko yaitu bentukan geologi yang membentang di Pulau Sumatera dari utara ke selatan, dimulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. Patahan inilah membentuk Pegunungan Barisan, suatu rangkaian dataran tinggi di sisi barat pulau ini.

Dengan Banyaknya Gunung di Pulau Sumatra, pulau ini dikenal dengan sebutan Bhūmi Mālayu dari semenjak dahulu, (malaya yang berarti gunung).

Deretan gunung di Sumatra menyebabkan pulau ini juga kaya dengan air panas alami dan menyimpan energi panas bumi. Berdasarkan hasil penelitian F Junghun (1854), USGS menyebutkan, sedikitnya terdapat 23 sumber air panas di sepanjang lembah Bukit Barisan yang berpotensi menghasilkan energi panas bumi. Survei yang dilakukan Geothermal Energy New Zealand Ltd pada 1986 bahkan menemukan 37 sumber air panas.

Tak hanya itu. Berimpit dengan deretan lembah, mengular "sabuk emas" yang memasyhurkan Sumatera sebagai Svarnadwipa. Kata dari bahasa Sanskerta itu berarti "Pulau Emas" seperti tertera dalam Prasasti Nalanda India yang dipahat pada tahun 860 Masehi.

William Marsden, dalam bukunya, History of Sumatera (1783), menyebutkan, Sumatera pernah diduga sebagai Ophir, tempat armada Solomon (Sulaiman) mengambil muatan emas dan gading. Meski dugaan tentang Ophir menurut Marsden tak berdasar, pulau ini memang penghasil emas tiada tara.

Logam mulia ini, terutama ditemukan di kawasan tengah pulau di sepanjang Bukit Barisan seperti di Martabe, Bangko, Rawas, Lebong, dan Natal. Minangkabau dianggap sebagai daerah terkaya sehingga Belanda banyak mendirikan loji di Padang.

Menurut Marsden, di daerah Minangkabau saja terdapat tidak kurang dari 1.200 lokasi tambang emas.

"Sebanyak 283.000 gram-399.600 gram setiap tahun tersimpan di Padang, di pasar bebas, atau di tangan perseorangan. Sementara itu, kira-kira 28.000 gram dipasarkan di Nalabu, di Natal kira-kira sebanyak 23.000 gram, dan di Mukomuko 17.000 gram," tulis Marsden.

TM Van Leuwen memberikan gambaran lebih komplet soal produksi logam mulia dari Sumatera. Dalam tulisannya di Journal of Geochemical Exploration, edisi ke-50, 1994, dia memperkirakan, total emas yang dikeruk dari Sumatera sejak eksplorasi Belanda hingga 1994 mencapai 91 ton dan perak sebanyak 937 ton.

Jauh sebelum Belanda datang dan mengeruk emas dari Sumatera, perdagangan emas dari pulau ini sudah berlangsung lama. Dalam buku Barus Seribu Tahun yang Lalu (2003), Marie-France Dupoizat dan Daniel Perret menyebutkan, pengelana Tome Pires pada awal abad ke-16 mencatat bahwa emas diperdagangkan di seluruh pelabuhan di Sumatera, terutama di Barus.

Pelabuhan tua di pantai barat Sumatera Utara ini telah disebutkan dalam karya Ptolomeus, Geographia, yang ditulis pada abad ke-2 Masehi.


Pending (Pandiang) Minang


Pandiang Ameh (Emas)
Pending atau pandiang merupakan aksesoris pakaian raja, bangsawan dan pengantin Minang zaman dahulu, ia biasanya terbuat dari, perak, kuninangan dan bahkan emas. Pending dipakai sebagai kepala ikat pinggang pria.
Minangkabau man op Sumatra's Westkust 1890
OLLECTIE TROPENMUSEUM Adathoofden van de Minangkabau met gevolg
Minangkabau Nobleman
Gambar-gambar Pending berikut ini adalah dari KIT Museum Belanda, dengan kategori “objecten Culturele Herkomst - Minangkabau” (benda Budaya Asal Minangkabau.)
 
Buiksieraad. Sluitplaat. Zilveren gesp (Pandieng Badong)
Elipsvormige siergesp met bloem-en bladrank ornamente

Ellipsvormige siergesp met geometrische ornamenten
llipsvormige siergesp van messing versierd met rankornamenten
Koperen gordelplaat
echthoekige siergesp met zilver inlegsel
Gesp. Elipsvormige siergesp met bloem- en bladrank ornamenten

Siapa Itu Tan Malaka?

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun) adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia, dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Akibat rezim Orde Baru menyembunyikan rahasia sejarah mengenai Tan Malaka, saat ini masyarakat Indonesia tidak mengenal siapa Tan Malaka. Namun, seorang asing berkebangsaan Belanda, Dr. Harry A. Poeze mengungkapkannya ke publik. Baru pada hari-hari terakhir ini, kita mengetahui bahwa sesungguhnya kita memiliki seorang pewaris kepemimpinan nasional pada masa revolusi dulu.

Dalam lintasan sejarah, Tan Malaka merupakan salah satu tokoh revolusi kiri yang namanya hingga kini masih terus berkibar, paling tidak di Eropa. Sehingga tak heran jika Harry Poeze, peneliti senior sekaligus Direktur KITLV Belanda, menulis disertasi mengenai Tan Malaka pada tahun 1976 yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Tan Malaka lebih dulu memperjuangkan revolusi dibandingkan dengan Soekarno-Hatta. Ia pula yang pertama kali memperkenalkan kata Naar de Repoeblik Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh sebelum Hatta (1928) yang menulis Vrije (Indonesia Merdeka), dan Soekarno (1933) yang menulis Menuju Indonesia Merdeka. Ia adalah revolusioner sejati, keras, dan tanpa ampun kepada penjajah. Bersama Jenderal Soedirman, ia menolak perundingan. Ini pula penyebab mengapa ia berseberangan paham dengan Hatta-Sjahrir yang memilih jalan lunak kepada Belanda sehingga RI harus menanggung utang-utang negeri Belanda sebagai balasan pengakuan mereka terhadap kemerdekaan RI di Konferensi Meja Bundar (KMB). Kemudian, Presiden Soekarno mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional pada 1963.

Pejuang antikolonialisme

Tan Malaka menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi sebelum melanjutkan pendidikan ke Belanda. Pulang ke Indonesia tahun 1919 ia bekerja di perkebunan Tanjung Morawa, Deli.

Penindasan terhadap buruh menyebabkan ia berhenti dan pindah ke Jawa tahun 1921. Ia mendirikan sekolah di Semarang dan kemudian di Bandung. Aktivitasnya menyebabkan ia diasingkan ke negeri Belanda. Ia malah pergi ke Moskwa dan bergerak sebagai agen komunis internasional (Komintern) untuk wilayah Asia Timur. Namun, ia berselisih paham karena tidak setuju dengan sikap Komintern yang menentang pan-Islamisme.

Ia berjuang menentang kolonialisme "tanpa henti selama 30 tahun" dari Pandan Gadang (Suliki), Bukittinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kediri, Surabaya, sampai Amsterdam, Berlin, Moskwa, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hongkong, Singapura, Rangon, dan Penang. Ia sesungguhnya pejuang Asia sekaliber Jose Rizal (Filipina) dan Ho Chi Minh ( Vietnam).

Ia tidak setuju dengan rencana pemberontakan PKI yang kemudian meletus tahun 1926/1927 sebagaimana ditulisnya dalam buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia, Kanton, April 1925 dan dicetak ulang di Tokyo, Desember 1925). Perpecahan dengan Komintern mendorong Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok, Juni 1927.

Walaupun bukan partai massa, organisasi ini dapat bertahan sepuluh tahun; pada saat yang sama partai-partai nasionalis di Tanah Air lahir dan mati.

Perjuangan Tan Malaka yang bersifat lintas bangsa dan lintas benua telah diuraikan secara rinci dalam dua jilid biografi yang ditulis Poeze. Setelah Indonesia merdeka, perjuangan Tan Malaka mengalami pasang naik dan pasang surut. Ia memperoleh testamen dari Bung Karno untuk menggantikan apabila yang bersangkutan tidak dapat menjalankan tugasnya.

Menurutnya, pendidikan rakyat jelas merupakan cara terbaik membebaskan rakyat dari kebodohan dan keterbelakangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Tan Malaka dan gagasannya tidak hanya menjadi penggerak rakyat Indonesia, tetapi juga membuka mata rakyat Philipina dan semenanjung Malaya atau bahkan dunia.


Foto Tan Malaka wakatu bujang.
Kematian Tan Malaka

Pada tahun 1948, dwitunggal (Soekarno-Hatta) ditangkap. Terjadi kekosongan kepemimpinan (referensi lain menyebutkan bahwa sebenarnya tidak terjadi kekosongan karena telah terbentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatera Barat).

Menurut Tan Malaka, dwitunggal sudah tidak bisa memimpin revolusi sehingga ia mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin revolusi untuk melaksanakan testamen (suatu pernyataan dari orang yang masih hidup yang harus dilaksanakan pada waktu ia mati atau menghilang) politik Soekarno. Banyak sejarawan menganggap tindakan Tan Malaka sudah sesuai dan sah. Jika ini benar, maka presiden kedua RI adalah Tan Malaka, bukan Letnan Jenderal Soeharto, sebagaimana yang kita ketahui saat ini. Akan tetapi, kesimpangsiuran informasi di medan pertempuran pada akhirnya membuat Tan Malaka dipandang sebagai pemberontak yang ingin mengambil alih kekuasaan secara paksa dengan memanfaatkan momentum ditangkapnya dwitunggal. Gerakannya dipandang membahayakan revolusi. Perpecahan pun terjadi di tubuh TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pimpinan Jenderal Soedirman ketika itu. Meskipun terjadi perdebatan sejarah mengenai dari siapa komando untuk menghabisi Tan Malaka, akhirnya tentara RI menembak mati Tan Malaka di Kediri.

Dalam kondisi ini, Tan Malaka mungkin lebih cocok disebut sebagai pahlawan yang terlupakan. Mengapa demikian, karena Ia berpuluh-puluh tahun telah berjuang bersama rakyat, namun kemudian dibunuh dan dikuburkan disamping markas militer di sebuah desa di Kediri pada 1949, tanpa banyak yang tahu. Padahal ia lebih dari tiga dekade merealisasikan gagasannya dalam kancah perjuangan Indonesia. Ini dapat dilihat dari ketika Tan Malaka pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa, yakni dengan mendirikan Sekolah Rakyat di Semarang. Padahal Tan Malaka ketika sedang dalam pengejaran Intelijen Belanda, Inggris dan Amerika.

JEMBATAN BERATAP


Jembatan beratap di atas Lembah Gumanti, Solok, (1877-1879)
JEMBATAN BERATAP adalah bagian dari sarana transportasi publik di Minangkabau masa lampau. Di beberapa perpustakaan dan museum di Belanda ditemukan foto beberapa jembatan beratap di Minangkabau. Jembatan seperti ini mungkin dapat dibilang sebagai hasil teknologi orang Minangkabau asli. Seluruh konstruksi jembatan ini tampaknya dibuat dari kayu, dan atapnya dibuat dari ijuk.


Belum ditemukan penjelasan kultural mengapa dulu hampir setiap jembatan di Minangkabau diberi atap. Mungkin hal itu terkait dengan kenyataan bahwa pada zaman dulu kebanyakan orang bepergian dengan jalan kaki. Jembatan memberikan rasa nyaman dan adem, dan oleh karenanya menjadi semacam tempat untuk melepas lelah sesaat tanpa harus pergi jauh dari area/badan jalan. Jembatan, dengan demikian, adalah semacam etape di mana seseorang yang sedang bepergian dapat berhenti sebentar untuk mengukur jarak yang telah dan akan ditempuh. Bukankah sungai yang menyebabkan jembatan harus dibuat sering menjadi tanda perbatasan antara satu nagari dengan nagari lainnya?
Minangkabaubrug in een stad in de Westkust van Sumatra 1890
Overdekte houten brug bij Alahanpandjang, Sumatra's Westkust 1900
Overdekte brug in de onderafd. Alahanpandjang, Sumatra's Westkust 1900
Kelihatannya pada masa lampau jembatan adalah sebuah tempat yang menyenangkan. Lihatlah dua orang dalam foto di atas yang berhenti dan saling bertegur sapa di bawah lindungan atap jembatan. Agaknya pada masa lampau jembatan menjadi semacam tempat bagi para travelers siapapun mereka: pengembara, musafir, pedagang, pelancong, dll. untuk berkenalan, saling bertukar sapa dengan ramah dan bertanya dari mana datang dan hendak ke mana tujuan.
Brug in de Anai-kloof met op de achtergrond Air Mantjoer op Sumatra's Westkust 1880
Jambatan Beratap di Supayang 1895
Jembatan Beratap di Painan sekitar tahun 1870
Jembatan Beratap di Solok Tahun 1870
Jembatan beratap di Pariaman Tahun 1929

Disusun Oleh: Echopedian
(Sumber foto: KITLV Leiden)