rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

JEMBATAN BERATAP


Jembatan beratap di atas Lembah Gumanti, Solok, (1877-1879)
JEMBATAN BERATAP adalah bagian dari sarana transportasi publik di Minangkabau masa lampau. Di beberapa perpustakaan dan museum di Belanda ditemukan foto beberapa jembatan beratap di Minangkabau. Jembatan seperti ini mungkin dapat dibilang sebagai hasil teknologi orang Minangkabau asli. Seluruh konstruksi jembatan ini tampaknya dibuat dari kayu, dan atapnya dibuat dari ijuk.


Belum ditemukan penjelasan kultural mengapa dulu hampir setiap jembatan di Minangkabau diberi atap. Mungkin hal itu terkait dengan kenyataan bahwa pada zaman dulu kebanyakan orang bepergian dengan jalan kaki. Jembatan memberikan rasa nyaman dan adem, dan oleh karenanya menjadi semacam tempat untuk melepas lelah sesaat tanpa harus pergi jauh dari area/badan jalan. Jembatan, dengan demikian, adalah semacam etape di mana seseorang yang sedang bepergian dapat berhenti sebentar untuk mengukur jarak yang telah dan akan ditempuh. Bukankah sungai yang menyebabkan jembatan harus dibuat sering menjadi tanda perbatasan antara satu nagari dengan nagari lainnya?
Minangkabaubrug in een stad in de Westkust van Sumatra 1890
Overdekte houten brug bij Alahanpandjang, Sumatra's Westkust 1900
Overdekte brug in de onderafd. Alahanpandjang, Sumatra's Westkust 1900
Kelihatannya pada masa lampau jembatan adalah sebuah tempat yang menyenangkan. Lihatlah dua orang dalam foto di atas yang berhenti dan saling bertegur sapa di bawah lindungan atap jembatan. Agaknya pada masa lampau jembatan menjadi semacam tempat bagi para travelers siapapun mereka: pengembara, musafir, pedagang, pelancong, dll. untuk berkenalan, saling bertukar sapa dengan ramah dan bertanya dari mana datang dan hendak ke mana tujuan.
Brug in de Anai-kloof met op de achtergrond Air Mantjoer op Sumatra's Westkust 1880
Jambatan Beratap di Supayang 1895
Jembatan Beratap di Painan sekitar tahun 1870
Jembatan Beratap di Solok Tahun 1870
Jembatan beratap di Pariaman Tahun 1929

Disusun Oleh: Echopedian
(Sumber foto: KITLV Leiden)

Share on :

0 komentar:

Posting Komentar